TUHAN TIDAK BUTUH ISTANA MEGAH DARIMU
TUHAN TIDAK BUTUH ISTANA MEGAH DARIMU
Oleh Rakhanur
Kampung sudah lumpuh. Semua warga terlelap
setelah seharian beraktivitas. Masjid kosong dan malam ini keyakinan dalam
diriku sudah bulat: aku akan membakar masjid yang baru saja selesai direnovasi.
Semua hasil penjualan kerupukku hari ini kupakai untuk membeli bensin.
Aku
membuka gerbang masjid serampangan. Terdengar suara-suara berkelontang ketika
rantai, gembok, dan batang-batang gerbang saling beradu karena tingkahku yang
kasar. Aku tidak peduli. Mereka pun pasti tidak akan peduli. Mereka sedang
bermimpi duduk di singgasana di sebuah istana megah di sorga. Atau barangkali
mereka bermimpi sedang bergaul dengan puluhan bidadari yang kulitnya seputih
susu.
Aku
masuk ke sisi kiri masjid. Ini sisi masjid yang baru dibangun saat proses
renovasi beberapa waktu lalu. Renovasi kemarin tidak hanya memperbaiki
bagian-bagian yang sudah usang, tetapi menambah bangunan baru di sisi kiri
bangunan utama. Bagian ini rencananya akan difungsikan sebagai tempat
pengajian. Beberapa rak berisi kitab-kitab sudah siap.
Kuamankan
kitab-kitab itu. Kupindahkan ke bangunan utama masjid. Kususun rapi di bagian
kosong pada rak tempat menyimpan alat salat. Setelah semua kitab kuamankan, aku
kembali ke sisi kiri. Kutuang dua jeriken bensin yang sudah kusiapkan.
Kupastikan hanya bagian sisi kiri saja yang terlumuri bensin. Aku tidak mau
membakar masjid secara keseluruhan. Sisi kiri saja.
Bau
bensin menyeruak membuatku sedikit keleyengan. Aku melangkah keluar. Menyulut
api pada selembar kain. Kemudian kain yang sudah menyala itu kulemparkan ke
salah satu titik yang sudah terlumuri bensin. Dengan cepat api menyala dahsyat.
Api menjilat apa saja yang bisa dijilat. Putih bersih dinding yang baru saja
dicat kuyakini akan menghitam seketika. Hangus. Kusaksikan pemandangan itu. Aku
sangat puas dengan ulahku barusan. Dalam hati aku mendesus, "Tuhan tidak
membutuhkan istana megah darimu, orang-orang dermawan. Tuhan bisa membuatnya
sendiri seribu istana megah jika memang Ia mau."
***
Aku berbeda dengan
lelaki-lelaki lain yang ada di kampung. Istriku, Maryam tidak bisa berangkat ke
Timur Tengah untuk menjadi TKW karena pesakitan yang dimilikinya. Lelaki-lelaki
lain menyibukkan diri dengan memancing sembari menunggu kiriman dari istrinya
di Timur Tengah, sedangkan aku seharian berkeliling ke kampung-kampung dengan
motor bebek yang sesak oleh tumpukan-tumpukan kerupuk. Aku mendagangkan kerupuk
yang diambil dari pabrik rumahan milik tetangga yang juga tidak bisa berangkat
ke Timur Tengah.
Pagi
hari setelah kopi buatan Maryam tandas, aku mulai menggeber motor bebek. Aku
mendatangi warung-warung langgananku. Syukur-syukur ada konsumen langsung yang
membegalku di tengah perjalanan. Aku tidak akan pulang sebelum langit di atas
kepalaku berubah jingga karena perlahan ditinggal oleh matahari.
Sepulang
berdagang aku selalu disambut hangat oleh Maryam. Maryam membantuku menurunkan
kerupuk-kerupuk yang masih tersisa. Membawanya masuk ke dalam rumah. Kemudian
disusun dengan rapi agar esok hari mudah disiapkan untuk didagangkan kembali.
Setelah semuanya rapi, aku duduk sebentar di teras. Menghabiskan sebatang
kretek sembari mendengarkan salawat yang keluar dari pelantang masjid. Setelah
kretek habis, aku bergegas membersihkan diri dan bersiap menuju masjid.
"Tadi
Pak Darma mencarimu ke mari, Kang." Aku keheranan ada maksud apa ketua DKM
itu mencariku.
Bada
Magrib aku bertemu dengan Pak Darma di masjid. Pak Darma mengajakku untuk
membicarakan sesuatu. "Ini penting, Kang Karna," kata Pak Darma penuh
keyakinan. Aku pun mengajak Pak Darma ke rumahku. Mengobrol di rumah akan lebih
enak pikirku.
Aku
menjamu Pak Darma di rumah. Dia duduk di teras rumahku yang remang-remang—tidak
ada ruang tamu di rumahku. Aku masuk ke dalam, meminta tolong pada Maryam untuk
menyiapkan kopi. Keripik pisang dan secangkir kopi untuk masing-masing menemani
obrolan kami.
Pak
Darma mulai berbicara. Ternyata topik yang ingin dibicarakan oleh Pak Darma
adalah perihal pelebaran masjid. Memang sudah sejak tahun lalu warga berencana
memugar masjid meskipun masjid yang kini berdiri belum terlalu usang. Warga
berkeinginan memiliki masjid yang lebih besar. Lebih megah. "Agar bisa
menampung jamaah salat Jumat lebih banyak," kata seorang warga ketika
rapat mengenai hal ini. Memang beberapa kampung tetangga tidak memiliki masjid
yang dapat menggelar salat Jumat, sehingga mereka harus menumpang di masjid
yang ada di kampung kami.
Warga
kampung memang sangat bersemangat atas rencana ini. Mungkin salah satu
alasannya karena mereka bingung harus dengan cara apa lagi mereka menghabiskan
uang kiriman dari istrinya. Memenuhi kebutuhan primer sudah. Berbelanja
barang-barang mewah sudah. Mempergagah istana masing-masing sudah. Memberi
makan hobi mereka pun sudah. Mereka pikir sudah saatnya memeberi hadiah pada
Tuhan.
Kedatangan
Pak Darma bermaksud meminta sumbangan kepadaku. Menurut penuturannya, hanya aku
yang belum memberi dana untuk proyek ambisius itu. Aku berbicara pada Pak Darma
kalau setiap salat di masjid aku selalu meloloskan sepeser duitku ke dalam
kotak amal. "Ini berbeda, Kang," ujar Pak Darma hati-hati. Seluruh
warga ternyata sepakat memukul rata setiap kepala keluarga untuk jumlah urunan
yang harus dikeluarkan. Bagiku yang miskin ini jumlah itu sangat besar.
Pak
Darma seolah tidak mau peduli. Dia saklek harus begitu pokoknya. Sudah
kesepakatan bersama. Tapi aku tidak sepakat. Bahkan tidak tahu ada kesepakatan
itu.
Aku
akhirnya meminta waktu untuk mengumpulkan duit. Pak Darma setuju. Aku diberi
waktu satu bulan oleh Pak Darma, "karena kita harus segera memulai proyek
ini, Kang". Aku meminta waktu tiga bulan. Pak Darma tidak setuju. Baiklah
aku menyerah.
Satu
bulan berlalu. Duit yang diminta Pak Darma belum terkumpul. Penjualan kerupuk
satu bulan ini sepi sekali. Aku pun berterus terang kepada Pak Darma kalau
hasil penjualanku satu bulan ini bahkan tidak bisa menutupi biaya hidup
keluargaku. Nampaknya Pak Darma agak kesal. Tapi apa boleh dikata.
Malam
ini semua kepala keluarga berkumpul di masjid. Rapat terakhir sebelum proyek
dimulai. Pak Darma selaku pimpinan masjid menyebutkan satu per satu nama yang
sudah memberi sumbangan. Tentu tidak ada namaku dalam daftar nama itu. Beberapa
nama disebutkan dua kali karena mereka memberi lebihan dari jumlah yang sudah
disepakati sebelumnya.
Rapat
malam ini sedikit canggung ketika Pak Darma menagih apa yang seharusnya aku
keluarkan. Dengan perasaan tidak enak aku berterus terang dan meminta maaf
kepada seluruh hadirin. Puluhan sorot mata tertuju tajam kepadaku. Aku bisa
melihat dengan jelas tatapan-tatapan sinis itu. Di sudut-sudut hadirin terlihat
membicarakanku dengan orang di sampingnya. Dari gerak mulut yang kuperhatikan,
itu sebuah olok-olokan.
Dengan
bijaksana Pak Darma menasihatiku dengan ayat-ayat Tuhan. Hanya hamba yang
membangun masjid yang beriman kepada Tuhan dan hari akhir. Masjid adalah rumah
tempat turunnya rahmat Tuhan. Jika hamba-hamba berserikat untuk membangun
masjid, maka Tuhan menjanjikan sebuah istana di sorga untuk masing-masing dari
mereka. Namun satu ayat yang menyakitkan bagiku dan itu diucapkan pula oleh Pak
Darma: tidak ada yang paling aniaya selain dia yang menghalangi hamba Tuhan
menyebut nama-namaNya dalam masjid.
Aku
yakin Tuhan tidak sejahat itu. Mereka yang jahat menafsirkan ayat-ayatNya.
Seenak jidat menafsirkannya. Aku miskin. Bagaimana bisa membangun masjid? Aku
tak ikut iuran bukan karena tak mau, tapi karena aku miskin!
Hening.
Demi
memecah hening Pak Darma mengusulkan agar aku merelakan saja rumahku yang tepat
berada di sisi kiri masjid. Tidak cuma-cuma, tetapi warga akan membeli rumahku
dengan harga murah. Aku semakin heran dibuatnya. Pikiran semacam apa yang ada
di benak mereka semua? Aku ingin marah, tetapi aku tak cukup berani. Aku kesal.
Andai mereka tahu, aku lah yang seharusnya mereka pikirkan, bukan Tuhan. Untuk
apa mempergagah istana Tuhan, sementara aku yang tinggal tak jauh dari sana
masih menderita. Jangankan untuk memberi hadiah kepada Tuhan, untuk makan sehari-hari
saja aku masih harap-harap cemas.
"Tapi
bagaimana nasibku jika rumah satu-satunya yang kumiliki kujual?" tanyaku.
"Kau
bisa mengontrak salah satu rumahku, Kang Karna."
"Bajingan!"
kuucap dalam hati. "Aku harus bicara dulu dengan Maryam," yang
terucap.
***
Tekan-tekanan
terus kurasakan. Warga kampung seolah tidak mau berhubungan denganku lagi.
Menyapa pun ogah. Bos kerupuk yang produknya setiap hari kudagangkan sangat
menyayangkan sikapku. Tapi dia bahkan tidak mau memberi bantuan untukku. Maryam
murung memikirkan ini semua.
Dua
bulan setelah pertemuan terakhir itu, proyek renovasi masjid sudah mulai
berjalan dengan tidak ada duit dariku dalam anggarannya. Selama dua bulan ini
Pak Darma beberapa kali mendatangi rumahku. Meyakinkanku untuk menuruti saja
saran gila darinya. Aku menyerah. Tidak kuat lagi dengan cibiran-cibiran warga.
Aku menjual rumahku dengan harga murah.
Dua
hari setelah akad jual-beli, rumahku yang rapuh itu diratakan dengan tanah.
Kemudian dibangunlah bangunan baru yang terhubung dengan bangunan utama masjid.
Tidak ada keridaan dariku atas berdirinya bangunan baru itu. Bahkan, akad
jual-beli pun kulaksanakan atas dasar keterpaksaan.
Sudah
ada niatan dalam diriku untuk menghancurkan proyek gila itu, bahkan sejak
proyek itu masih dalam tahap pengerjaan. Dan malam ini, tepat tiga hari sejak
Pak Darma meresmikan bangunan masjid yang megah dan baru itu, kupastikan akan
kulaksanakan niat itu. Niat yang entah baik atau jahat. Satu hal yang pasti
kuyakini: aku yang miskin lebih pantas ditolong dibandingkan Tuhan Yang
Mahakaya. Dan Tuhan pun tidak akan iri ketika warga lebih memilih memberi
sebagian hartanya untuk membantu keluargaku yang miskin ini. []