XN0MXo6FztPvgPHwqRh1aqX6QVjY7mI3LZnn6QSB
Bookmark

Sundakala

Sundakala

oleh Sulaiman Djaya


“Pun, sapun! Kula ngahaturkeun

mantra gunung, ka para karuhun

nu aya di hilir, nu aya di pucuk:

jadilah limbung, jadilah rimbun”.

 

Ini adalah negeri para Hyang

yang menghuni gunung-gunung.

Dengan mantra paling sakti

bagi Nhay Larasati, bagi Dewi Pohaci.

 

“Jadilah limbung, jadilah rimbun

sebab air adalah jiwa bumi

dan batang-batang hutan

adalah tiang-tiang penyangga”.

 

Dahulu kala, di hilir Kali Pandan,

Sri Jayabupati mendirikan kota

Banten Girang. Dari kenangan

Tarumanagara yang kalah,

 

Sunda nan resah dan gundah

selepas prahara karena asmara para raja.

Nun jauh di timur Jawa, di negeri Daha,

lelaki bernama Airlangga

 

meregang nyawa penuh iba

karena serangan Sriwijaya nan tiba-tiba.

Dan Darmawangsa pun hijrah

ke negeri Niskala Wastu Kencana

 

di hilir Kali Pandan, di Banten Girang.

Tak ada kekuasaan yang kekal

melebihi usia di negeri Sunda.

Inilah negeri Banten yang tua

 

muasal para raja dan punggawa

yang kelak bertahta di Pakuwuan

di nagari pusaka Pajajaran,

di negeri kelahiran Raden Kian Santang.

 

“Pun, sapun! Kami para puun

menabuh angklung-angklung buhun

agar gunung-gunung tetap kukuh

bagi segenap anak-cucu”.

 

Dan di negeri Galuh, Rahyang Niskala

pun masygul, setelah Banten Girang

hancur-luluh oleh para perusuh,

tetangga yang cemburu pada paras ayu.

 

“Pun, sapun! Kami para anak cucu

ngahaturkeun putih sangu

ka para puun, ka para karuhun

ka para Hyang di gunung-gunung”.

 

(2013) 

 

 

________

Penulis

 

Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, liputan9, simalaba, Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, Yang Tampil Beda Setelah Chairil Anwar - Antologi Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2016, dan lain-lain. Kerapkali menjadi pemateri dan narasumber di forum-forum dan acara-acara kebudayaan, kesusastraan dan keagamaan di Banten dan luar Banten.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar