PETAKA 9 NAGA
PETAKA 9 NAGA
Oleh Rakhanur
Mula-mulanya kawasan ini adalah
perkampungan dengan hamparan sawah, kebun dan lapangan terbuka yang luas. Dua
puluh tahun yang lalu kawasan ini berubah menjadi kawasan elit. Tidak ada lagi
hamparan sawah dan lapangan terbuka yang luas. Tidak ada lagi masyarakat asli
yang mendiami perkampungan itu. Mereka terpinggirkan. Rumah-rumah mereka sudah
tergantikan oleh gedung-gedung menjulang yang berdiri angkuh. Mereka kini
tinggal di pemukiman padat penduduk di pinggiran kawasan elit ini.
Kawasan
elit ini menjadi pilihan populer bagi perusahaan-perusahan besar untuk
mendirikan kantor mereka. Beberapa pusat perbelanjaan juga berdiri megah di
kawasan ini. Aku menjadi salah seorang yang banyak beraktivitas di kawasan ini.
Aku ngantor di kawasan elit ini. Senin sampai jumat pukul sembilan sampai lima
aku berkutat di kawasan ini. Setiap jam makan siang tiba aku selalu pergi ke
Arjuna Mal—salah satu pusat perbelanjaan di kawasan elit ini—untuk makan di
restoran Jepang.
Aku
sudah sering makan di restoran Jepang ini sejak aku pertama kali bekerja di
kawasan elit ini lima tahun yang lalu. Di tahun yang ke lima aku baru menyadari
ada seorang kakek yang selalu kulihat sedang melakukan semacam ritual di
parkiran mal. Kakek itu terlihat sudah sangat tua. Kira-kira sudah berusia
tujuh puluh tahun. Setiap aku melihatnya, dia sedang duduk di bawah pohon di
parkiran mal mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala berwarna putih.
Mulutnya terlihat berkumat-kamit seperti membaca sebuah mantra. Dia membawa
sebuah tampah yang cukup besar berisikan tiga ekor ayam bakakak, aneka macam
buah-buahan, kembang wewangian, dan beberapa botol kola berukuran satu liter
sebagai sesajen. Dan baru kusadari pula kalau pemandangan itu selalu kulihat
setiap memasuki musim kemarau.
Hari
ini aku punya banyak waktu setelah makan siang pasalnya jadwal pertemuanku
dengan klien dijadwalkan ulang. Aku memutuskan untuk mengisi kekosonganku
dengan mengobrol dengan kakek tua itu. Aku sungguh penasaran dengan apa yang
sebenarnya sedang ia lakukan. Apakah manajemen sebuah mal megah dengan segala
fasilitas dan teknologi yang canggih seperti Arjuna Mal ini masih percaya
dengan takhayul? Atau jangan-jangan ada orang jahil yang tidak suka dengan
pencapaian Arjuna Mal? Dengan bermodalkan rasa penasaran itu, aku ingin
bertanya-tanya pada si kakek.
Aku
menunggu kakek itu selesai dengan ritualnya dari dalam mobil yang sengaja
kuparkir dekat dengannya. Setelah menunggu hampir satu jam, kulihat kakek tua
itu beranjak dari duduknya. Demi melihat itu, aku keluar dari mobil dan
menghampiri si kakek. Setelah basa-basi dan berkenalan, baru kuketahui kalau
dia bernama Ki Musa. Kemudian aku berterus-terang kepadanya bahwa aku sangat
penasaran dengan apa yang dia lakukan selama ini. Syukurlah dia bersedia
kutanya-tanya.
Awalnya
kuajak dia masuk ke dalam mal untuk mengobrol di sebuah coffee shop,
tapi Ki Musa menolak. Dia menyarankanku untuk mengobrol di tukang ketoprak di
depan mal saja. Aku setuju. Kami pergi ke sana. Kupesankan seporsi ketoprak
lengkap dengan telur dadar untuk Ki Musa. Ketika aku ingin mulai
bertanya-tanya, dia memotong. "Sabarlah, Anak Muda, aku makan dulu,"
katanya berbicara dengan nada santun lalu tersenyum lebar kepadaku. Aku
menurutinya.
Setelah
Ki Musa menghabiskan ketopraknya, sesi wawanca dimulai. Kulontarkan satu per
satu rasa penasaranku. Dari hasil wawancara dengannya, aku mendapatkan beberapa
informasi yang kupikir semacam cerita legenda darinya.
Ki
Musa melakukan ritual itu sejak pertama kali Arjuna Mal beroprasi. Menurut dia
di dalam Arjuna Mal itu ada sembilan ekor naga. Naga-naga itu menjadi penyebab
panas dahsyat yang melanda kawasan ini, bahkan sejak kawasan itu belum disulap
menjadi kawasan elit. Dulu, ketika kawasan ini masih berupa perkampungan dan
hamparan sawah yang luas pun kekeringan sering melanda. Tidak jarang
sawah-sawah dan kebun-kebun milik warga mengalami kekeringan dan akhirnya gagal
panen.
Ki
Musa bercerita kepadaku bahwa dulu dia dan warga kampung sempat menolak proyek
pembangunan kawasan elit ini. Pemilik proyek perlahan-lahan bernegosiasi dengan
warga asli kampung agar mereka menjual tanahnya. Sebagian warga asli kampung
yang memang miskin dan beberapa terlilit utang meridakan sawah dan tanahnya
dibeli oleh pemilik proyek. Sisanya masih enggan melepas.
Setelah
sekian lama bernegosiasi dengan warga, pemilik proyek masih belum berhasil
membebaskan semua lahan. Akhirnya pemilik proyek mulai menggunakan cara-cara
kotor. Mereka mengirim aparat ke kampung untuk mengancam. Warga asli kampung
yang masih bertahan dituduh sering mengganggu proyek pembangunan kawasan elit
ini. Bentrokan antara warga dengan aparat pun tidak bisa terhindarkan.
Ki
Musa yang sejak dulu dituakan menjadi salah seorang yang memimpin warga untuk
mempertahankan tanah mereka. Intimidasi, teror, hingga ancaman pembunuhan sudah
menjadi makanan sehari-hari Ki Musa saat itu. Bahkan Ki Musa sempat ditahan
oleh aparat. Dia mengaku mendapatkan perlakuan tidak manusiawi ketika dia
ditahan. Dia dipukul, disetrum, bahkan janggut yang menjadi simbol kehormatan
baginya pun dipotong habis selama di dalam tahanan sampai akhirnya dia
dibebaskan dua tahun kemudian.
Warga
tetap tidak tunduk kepada aparat dan pemilik proyek walaupun Ki Musa dipenjara.
Tapi, seiring tetap berjalannya proyek kawasan elit ini, sawah-sawah dan
kebun-kebun warga yang tersisa sering mengalami gagal panen. Kampung jadi
kekurangan air bersih. Mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga
pun surut. Musim kemarau menjadi tantangan berat bagi warga. Semenjak ada
pembangunan proyek kawasan elit ini musim kemarau menjadi semakin panjang dan
terasa lebih panas dari biasanya.
Aku
coba menerangkan soal krisis iklim yang mungkin saja menjadi penyebab
kekeringan yang melanda kampung itu. Atau boleh jadi akibat proyek pembangunan
itu. Ki Musa membantah mentah-mentah. Dia bilang petaka itu datang akibat
sembilan naga yang dikirim oleh pemilik proyek dan bersarang di Arjuna Mal yang
saat itu baru setengah jadi. Ki Musa mendapatkan petunjuk dari leluhurnya
melalui mimpi bahwa sembilan naga itu menyemburkan panas ke sawah-sawah,
kebun-kebun, dan bidang-bidang tanah milik warga, sehingga warga kerap gagal
panen.
Pemilik
proyek sudah kehabisan cara untuk membujuk Ki Musa dan sebagian warga yang
masih enggan menjual tanahnya. Jika terus-terusan mengandalkan otot aparat akan
sangat berisiko untuk perusahaan mereka. Apalagi otot aparat perlu dibayar
dengan harga mahal. Mereka pikir kekuatan mistis menjadi langkah pamungkas
untuk mengusir warga. Dan itu terbukti berhasil membuat warga asli kampung itu
menyerah. Setelah sering dilanda kekeringan yang berujung pada gagal panen,
warga yang tadinya keras kepala mulai melembek. Mereka akhirnya menjual
sawah-sawah, kebun-kebun, dan bidang-bidang tanah mereka. Termasuk Ki Musa yang
juga menyerah.
Melalui
mimpi pula awalnya Ki Musa diperintahkan oleh leluhurnya untuk membunuh
sembilan naga tersebut. Tetapi, usahanya selalu gagal. Berkali-kali dia
bertarung secara terbuka dengan sembilan naga tersebut, tapi dia selalu kalah.
Kekuatan sembilan naga itu terlalu kuat untuk seorang Ki Musa. Hingga akhirnya
Ki Musa justru mengabdi kepada kesembilan naga tersebut. Sejak saat itu setiap
musim kemarau datang Ki Musa membawa sesajen untuk diberikan kepada naga-naga
yang bersarang di Arjuna Mal.
Kini Kutahu Ki Musa
tinggal di pinggiran kawasan elit ini. Dia masih rutin melakukan ritual itu.
Dia percaya jika pada musim kemarau dia tidak datang untuk memberi sesajen,
maka naga-naga itu akan murka. Mereka akan keluar dari sarangnya dan
menyemburkan panas. “Kau bisa bayangkan, Anak Muda, akan sepanas apa kota ini
jika naga-naga itu murka. Bahkan tanpa amarah naga-naga itu saja, kota ini
sudah seperti memiliki seribu matahari,” kata Ki Musa meyakinkan.
Setelah rasa penasaranku
terpenuhi, kututup bembicaraan bersama Ki Musa dengan rasa percaya tidak
percaya. Sebelum berpamitan, Ki Musa meminta sejumlah uang kepadaku, “untuk
membeli sebotol kola,” katanya. “Kola yang kubawa untuk sesajen kurang sebotol,
nanti ada naga yang tidak kebagian jatah”. []