XN0MXo6FztPvgPHwqRh1aqX6QVjY7mI3LZnn6QSB
Bookmark

Meleleh di Ujung Jalur dan Puisi Lainnya

( Ilustrasi ini dibuat menggunakan ChatGPT.)

Meleleh di Ujung Jalur


Rel kereta api di ujung Banten Selatan

Mulai meleleh, mengeluarkan nanah,

Saking perihnya dilindas kereta kata-kata.

Kemudian lelehnya menjalar ke kulit-kulit petani,

Membicarakan sebelah kakinya

Yang ingin melanjutkan langkah

Menuju stasiun berikutnya.

 

Akhirnya seluruhnya meleleh,

Di sepanjang tangan yang meraba

Peta-peta kolonial.

 

Gula Pahit di Atas Rel

 

Sepanjang rel dilumuri darah

Dari penyiksaan gerbong-gerbong

Oleh mesin uap yang arogan,

Yang ingin tiba di stasiunnya

Sejak mulai berjalan ke arah barat,

Dari timur membawa gula yang pahit.

 

Ketika dimakan, penuh kekacauan kata,

Di antara titik dan koma,

Mengadu kepada peron yang tak pernah mengalah,

Kepada rel-rel yang hanya pasrah.

 

Hai, Nona Sakit

 

Hai, nona sakit,

Mengapa terdiam sendiri

Di stasiun tanpa rel,

Padahal kau menunggu kereta,

Bukan menunggu kata-kata yang berlalu-lalang.

 

Gaun batikmu sampai luntur,

Bersama lapis cat yang memudar,

Yang semakin menua,

Bersama wajahmu yang sementara,

Menyerupai Stasiun Batavia

Yang selalu ingin dijumpai.

 

Padahal sisi-sisinya terdampar

Oleh derasnya kereta.

 

 Staatsspoorwegen Terdiam

 

Rel-rel terendam oleh dendam,

Alam yang marah kepada peron

Yang tak menyisakan sebidang relnya

Bagi kereta yang ingin menuju Batavia.

 

Semarang marah,

Bersekutu dengan hujan,

Yang ingin memutus nadinya

Dari pusat-pusat kesibukan.

 

Sialnya, beberapa gerbong

Saling menghantam,

Bergantian bersuara

Kepada rel-rel yang terendam.

 

Sedangkan Staatsspoorwegen?

Terdiam,

Mendengarkan air menghapus

Peta-peta kolonial.

 

Staatsspoorwegen adalah perusahaan kereta api milik negara yang dikelola oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda (Wikipedia, 2026).

 

Masinis Berwajah Manis

 

Masinis berwajah manis,

Karena kebanyakan gerbong gula

Dari timur Jawa yang jauh.

Lokomotif terus mengeja rel

Yang meleleh sepanjang peradaban.

 

Yang telah dilaluinya terbentur

Oleh kerasnya dentuman revolusi,

Bersama stasiun yang berorasi

Atas hilangnya kata

Di dalam kendali lokomotif.

 

Semakin mendesak lambung

Untuk mencerna peta kolonial,

Semakin hari bertanya

Kepada otak yang terdiam.

 

Prajurit Polisi Kolonial

 

Prajurit polisi kolonial

Membubarkan rel-rel yang kususun,

Memblokade kereta-kereta yang terencana

Untuk mengebom Batavia,

Sebagai pusat kekusutan

Dari narasi yang tersesat.

 

Oleh benak gubernur yang semakin penasaran

Kepada puisi-puisi yang menjelma lokomotif,

Yang selalu berjalan beriringan

Dengan tembakan-tembakan senjata,

Menumpaskan seluruh titik dan koma

Yang tak bersalah.


Akhirnya kata-kata mengalir tanpa kendali,

Akhirnya kata-kataku tergelincir

Bersama gerbong-gerbong yang telah hanyut.


Rafif Abbas Pradana, dilahirkan di Bekasi, 25 Oktober 2004. Merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan.


Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
1 komentar
  • Catatan
    Catatan
    22 Juni 2026 pukul 00.54
    Wah hebat banget
    Reply