KURSI GOYANG
KURSI GOYANG
Oleh Rakhanur
Rumah tua di bawah pohon beringin itu
sudah delapan tahun tidak berpenghuni. Alang-alang setinggi pinggang orang
dewasa tampak bergoyang riang di halamannya. Cat putih sudah tidak bersih lagi.
Jamur menempel di sana sini. Genting tempat bernaung pekat oleh lumut. Di pintu
gerbang terpasang spanduk berwarna kuning bertuliskan "DIJUAL TANPA
PERANTARA".
Delapan
tahun yang lalu menjadi waktu terakhir rumah tua itu riuh. Saat emak dari
istriku wafat banyak kerabat yang datang. Setelah itu, rumah Emak ditinggal.
Istriku dan enam saudaranya masih betah tinggal di kota. Sepupu istriku yang
tinggal tak jauh dari situ ditugaskan untuk rutin membersihkan rumah dengan
imbalan rupiah yang dikirim dari kota. Rumah itu dibersihakan rutin dengan
harapan agar tetap terlihat terawat ketika ada orang yang datang menawarnya.
Satu tahun, dua tahun sepupu istriku datang rutin sebulan sekali untuk merawat
rumah. Tahun ketiga orang yang diharapkan datang untuk menawar rumah itu tak
kunjung datang. Dia pun diberhentikan.
Rumah
tua itu menyimpan banyak memori indah keluarga kami. Aku menikahi Mira di rumah
itu. Pesta khitanan si sulung digelar di rumah itu. Selagi masih ada Emak dan
Bapak, kami selalu merayakan lebaran di rumah itu.
Satu
bulan yang lalu Mira dinyatakan lolos seleksi menjadi kepala sekolah. Layaknya
serdadu yang baru dilantik, Mira ditempatkan di sekolah kecil yang jauh dari
pusat kota. Sekolah itu ternyata berlokasi tak jauh dari rumah Emak. Mira
mengajakku untuk pindah ke kampung. Aku setuju kami akan menempati rumah Emak.
Hanya kami berdua. Kedua anak kami tetap di kota.
Setelah
Mira mendapat izin dari saudara-saudaranya untuk tinggal di rumah Emak, kami
berangkat. Rumah tua itu kami rapikan. Spanduk tanda kalau rumah itu dijual
kami lepas. Kami cat ulang semua tembok yang sudah berjamur. Genting-genting
yang bocor diganti. Sepupu Mira membantu kami.
Kini,
satu semester sudah kami tinggal di sini. Kegiatanku di sini tiada berbeda
dengan kegiatanku di kota: manganggur. Sejak lima belas tahun yang lalu aku
memang sudah tidak bekerja. Lima belas tahun yang lalu perusahan tempat aku
bekerja melakukan PHK besar-besaran. Sialnya aku menjadi salah seorang pekerja
yang kena PHK. Aku coba mencari pekerjaan lain, tapi terhalang oleh status
pendidikanku yang hanya tamatan sekolah menengah dan usia yang sudah tidak muda
lagi.
Pagi-pagi
aku mengantar Mira ke sekolah. Kembali ke rumah. Nyeruput kopi dan menghisap
rokok sambil merias bonsai. Siang hari tidur selepas salat zuhur. Sore hari
menjemput Mira pulang. Malam hari menjelajah Facebook atau coba bergaul dengan
bapak-bapak yang ada di sekitar rumah. Begitu terus setiap hari.
Di
ruang tengah ada kursi goyang tua terbuat dari rotan. Kondisinya masih cukup
bagus untuk kursi setua itu. Kursi goyang ini adalah singgasana Bapak semasa
hidup. Dia kerap duduk santai sambil menonton TV atau sekadar melamun dan
akhirnya tertidur di kursi goyang ini. Sekarang kebiasaan itu aku yang
melakoninya. Tapi ada yang aneh setiap aku tertidur di kursi goyang ini.
Ketika
aku memejamkan mata di kursi goyang, aku langsung terlarut dalam mimpi. Aku bisa
merasakan tubuhku berjalan ke sebuah ruangan gelap. Hanya ada sedikit cahaya
yang masuk dari ventilasi udara. Aku berdiri tak jauh dari pintu. Tak berani
masuk lebih dalam lagi. Begitu pintu tertutup, dari pojok ruangan terdengar
suara berat. Suara itu merangkai kisah perjalanan pernikahanku dengan Mira.
Namun, dari nada yang keluar terdengar kekecewaan. Suara itu selalu
mengungkit-ungkit tentang apa yang selama ini terjadi pada rumah tanggaku.
Tentang Mira yang tak kenal lelah bekerja. Tentang aku yang tak mampu
membahagiakan Mira selepas nasib memaksaku untuk menjadi seorang penganggur.
Mira
memang seperti tak kenal lelah bekerja. Dari pagi hingga sore dia mengajar di
sekolah. Menghadapi anak didiknya yang unik-unik. Sampai rumah dia masih harus
mengerjakan pekerjaan rumah yang tak sempat kukerjakan. Malam hari masih
berkutat dengan laptopnya. Entah apa lagi yang dia kerjakan.
Mira
bahkan seringkali mencari penghasilan tambahan. Berbagai pekerjaan yang masih
berhubungan dengan pendidikan, kalau itu dirasa bisa memberi tambahan duit, dia
ambil. Entah program bikinin kementrian, entah program bikinin swasta, yang
penting dia dapat duit. Belum lagi usaha kecil-kecilan yang dia jalankan setiap
libur mengajar: jualan risol mayo.
Aku
sungguh tak tega melihatnya seperti itu. Sesekali pernah aku bicara dengannya.
Aku meminta agar dia jangan terlau memaksakan dirinya. Kalau dia sakit, aku
juga yang repot. Namun, memang dasar Mira adalah wanita yang susah dikata. Dia
malah balik memarahiku seolah-olah ini semua salahku. Aku tidak bisa mengatakan
bahwa ini semata-mata karena kesalahanku. Ketika aku mengajak Mira menikah, aku
bekerja di perusahan milik negara. Lima tahun pertama pernikahan kami—saat itu
Mira belum dingkat menjadi pegawai negeri, hampir seluruh kebutuhan rumah
tangga aku yang menanggung. Pun sekarang aku hanya seorang penganggur ini bukan
karena keinginanku. Kalau Mira tidak suka dengan keadaan sekarang ini, silakan
saja dia protes pada perusahan yang memutus kontrak kerjaku, atau kepada negara
sebagai pemilik perusahaan, atau kalau berani silakan protes kepada Tuhan.
Jujur
memang tidak mudah menghadapi situasi sulit ini. Sebagai seorang pria aku
merasa tidak punya harga diri lagi. Aku tidak dihargai lagi oleh anak istriku
hanya karena aku sudah tidak bisa lagi menafkahi mereka secara penuh. Justru
sebaliknya, terkadang aku yang meminta nafkah kepada Mira. Padahal aku tak
sanggup menafkahi mereka baru lima belas tahun terakhir ini saja. Biaya lahiran
kedua anakku, aku yang menanggung. Ketika mereka masuk sekolah dasar, aku yang
membiayainya, walaupun memang tidak sampai tamat karena aku keburu di-PHK dan
Mira yang kemudian menanggung semuanya.
Begitulah
kira-kira apa yang terjadi antara aku dan suara berat itu. Terkadang suara
berat itu terdengar lirih. Tak jarang pula ada penekanan-penekanan intonasi
pada beberapa bagian yang dia kisahkan. Satu hal yang pasti: aku bisa merasakan
kekecewaan si pemilik suara berat itu kepadaku.
Setelah sekian kali aku
mengalami mimpi yang aneh ini, akhirnya aku punya cukup keberanian untuk
mendekati sumber suara. Si pemilik suara yang mengetahui bahwa aku
menghampirinya menampakkan diri tepat di bawah secercah sinar yang tembus lewat
ventilasi udara. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa pemilik suara itu seorang
lelaki paruh baya dengan rambut yang sudah sepenuhnya memutih. Tidak butuh
waktu lama bagiku untuk mengenali bahwa pemilik suara itu adalah bapaknya Mira.
Bapak
kemudian menghampiriku perlahan. Kini kami sudah benar-benar berhadapan. "Ketika
kau meminta restu untuk menikahi Mira, kau berjanji untuk selalu menfkahinya.
Kenapa sekarang kau ingkar, Nak?" kata Bapak dengan suara beratnya.
Kemudian
Bapak banyak menasihatiku (lebih tepatnya ngomel). Dia berkhotbah soal harga
diri seorang pria. Dia tegaskan bahwa pria diciptakan untuk menjadi seorang
pekerja keras, bukan penganggur. Dia jabarkan konsep-konsep ideal kehidupan
seorang pria. Padahal aku yakin kalau saja Emak mendengar semua perkataan
suaminya itu kepadaku, dia hanya akan tertawa getir. []