KOMERSIALISASI
KOMERSIALISASI
Oleh:
Rakhanur
Uwo sudah lama terbaring di kasurnya.
Napasnya berat tidak karuan. Tubuhnya tidak kekar lagi. Otot-otot kencang yang
terlatih menggendong hasil tani kini telah peyot. Sesekali dia kehilangan
kesadaran dirinya. Sesekali Uwo juga menunjukan gelagat ingin mampus.
Keluarganya yakin kalau Uwo sudah berada di penghujung hayat.
Di
kampung, orang sekarat seperti Uwo biasanya akan diriung oleh keluarga
dan tetangga. Mereka berdoa siang dan malam bersama-sama untuk kesembuhan yang
sakit atau menuntun orang itu agar saat waktunya tiba, dia akan mampus dengan
baik. Untuk urusan menuntun agar mampus dengan baik, biasanya keluarga
mempercayai urusan itu kepada seorang ustaz.
Malam
itu Uwo kumat lagi. Mata Uwo membelalak. Napasnya sangat cepat, sesekali
tersengal. Semua orang panik. Keluarga Uwo menyebut pujian-pujian dengan
histeris. Jelun dan Wawi yang saat itu ada di rumah Uwo berinisiatif menjemput
Ustaz Kur.
Ketika mereka sampai di
rumah Ustaz Kur, ternyata dia sedang tidak ada di rumah. Ustaz Kur sedang dinas
ke kota. Dia sedang mengisi tausiah di acara khitan anak saudagar di kota dan
baru akan kembali nanti lusa. Jelun dan Wawi kembali ke rumah Uwo untuk mengambil
motor bebek milik Jelun. Tanpa ba-bi-bu mereka tancap gas menuju kampung
tetangga untuk menjemput Ustaz Solih.
Jelun dan Wawi menembus
hutan gelap dengan motor bebek yang biasa digunakan untuk ke kebun.
Satu-satunya penerangan yang mereka miliki ialah senter yang menempel di jidat
Jelun. Perjalanan mereka terasa lebih menantang karena jalanan yang dilalui
naik dan turun, berlubang-lubang, dan berkelok-kelok. Sudah tengah malam
seperti ini hanya orang dengan keadaan darurat dan orang yang berniat bunuh
diri yang melintas di jalan yang membelah hutan ini.
Tiga puluh menit Jelun
dan Wawi membelah hutan. Sampailah mereka di kampung tetangga. Kampung itu
sudah tertidur lelap. Hanya suara-suara jangkrik dan bangkong terdengar
bersahut-sahutan. Suasananya tak berbeda jauh dengan kampung Jelun dan Wawi.
Jelun dan Wawi
mengetuk-ketuk rumah Ustaz Solih. Agak lama menunggu ustaz dengan perawakan
gemuk itu menjawab. Butuh beberapa kali percobaan hingga akhirnya sang ustaz
keluar menemui Jelun dan Wawi. Jelun dan Wawi kemudian menyampaikan maksud
kedatangan mereka.
Ustaz Solih bergegas
masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Dikenakannya sarung lusuh, baju
koko putih ke kuning-kuningan, dan peci yang warna hitamnya sudah luntur.
Wajahnya berbanding terbalik dengan pakaiannya itu: segar terbasuh air wudu.
Setelah semuanya siap, Ustaz Solih menggeber motornya yang sejenis dengan motor
Jelun. Kini Jelun dan Wawi sedikit lebih tenang untuk kembali membelah hutan
karena bersamanya Ustaz Solih yang saleh.
Ketika Jelun, Wawi, dan
Ustaz Solih tiba di kediaman Uwo, Uwo sudah mampus. Keluarganya semakin kencang
menangis. Beberapa tetangga sudah berkumpul menyambung doa. Dengan lirih Ustaz
Solih berkata, "semoga beliau mampus dengan baik".
Ustaz Solih kemudian
membacakan doa-doa dan pujian-pujian yang dia panjatkan bersama orang-orang
yang telah berkumpul. Tengah malam bukanlah waktu yang pas untuk melaksanakan
pemakaman. Jelun dan Wawi memutuskan menggali liang untuk Uwo setelah subuh saja.
Begitupun orang-orang yang biasa memandikan dan mengafani mayat. Dan semua
proses pemulasaraan mayat akan dipimpin oleh Ustaz Solih.
Seluruh proses dari
memandikan hingga menguburkan Uwo berjalan lancar. Semua tetangga membantu.
Mereka menunda untuk pergi ke kebun masing-masing hingga liang kubur Uwo
tertutup tanah kembali. Itu sudah menjadi kebiasaan di kampung ini. Bahkan jika
proses mengubur mayat perlu dilakukan berbenturan dengan jadwal mereka ke
kebun, mereka akan batal pergi.
Tahlilan akan digelar
hingga tujuh hari ke depan. Sementara Ustaz Kur belum kembali, Ustaz Solih
masih mengambil peran. Dua malam pertama tahlilan dipimpin oleh Ustaz Solih.
Kini sudah malam yang
ketiga setelah kepergian Uwo. Tahlilan masih digelar di kediamannya. Ustaz Kur
malam ini memimpin tahlilan setelah dia kembali dari kota. Tahlilan berjalan
seperti biasanya. Tetangga-tetangga berkumpul, berdoa, dan mengucap tahlil bersama-sama.
Bedanya, tahlilan yang digelar keluarga Uwo kali ini tidak menyediakan berkat
untuk jamaah. Keluarga Uwo miskin. Uang yang dihimpun tetangga saat hari
kematian Uwo hanya cukup untuk membiayai proses pemulasaraan. Tetapi warga
kampung tidak menganggap itu sebagai masalah.
Warga kampung tetap
semangat untuk berkumpul melaksanakan tahlilan. Mengirim doa untuk mengiringi
kepergian Uwo menuju padang abadi seperti yang sudah Tuhan janjikan. Warga
kampung bahkan tetap membagi jadwal piket untuk mengaji kitab sepanjang malam
hingga malam ketujuh. Jelun dan Wawi sebagai kerabat Uwo juga tetap di kediaman
Uwo untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.
Masalah justru datang
dari Ustaz Kur. Masalah itu datang tepat setelah tahlilan malam ketujuh usai
digelar. Ustaz Kur berbicara empat mata dengan istri Uwo. Dia meminta duit
untuk jasanya. "Seikhlasnya saja tak mengapa," kata Ustaz Kur kepada
istri Uwo.
Istri Uwo bingung
bagaimana harus membayar jasa Ustaz Kur itu, sedangkan semua warga kampung tahu
bahwa Uwo dan keluarganya itu miskin. Istri Uwo pun berbicara pada Jelun dan
Wawi. "Untuk apa?" tanya Jelun dan Wawi. Istri Uwo menceritakan apa yang
disampaikan oleh Ustaz Kur.
Jelun dan Wawi sudah
mengira hal ini. Mereka sudah tahu persis tabiat ustaz yang belakangan ini
mulai kondang. Naik daun. Diundang ke sana ke mari dengan bayaran yang cukup
besar.
Semenjak namanya mulai
tersohor, Ustaz Kur sering keluar kampung. Dia sering meninggalkan umat. Absen
dalam momen-momen penting keagamaan. Bahkan memimpin salat wajib pun
malas-malasan. Dia lebih sering melempar tugas itu kepada yang lain. Lain
cerita jika diminta memimpin salat Jumat atau salat di hari raya, semangat
betul dia karena memang ada duit yang disiapkan oleh masjid.
Mengobrol santai di
pelataran masjid di antara waktu salat Magrib dengan Isa sudah menjadi
kebiasaan bapak-bapak di kampung, termasuk Jelun, Wawi, dan Uwo sebelum dia
jatuh sakit. Momen inilah yang biasanya dimanfaatkan bapak-bapak untuk bertanya
perihal agama kepada Ustaz Kur. Dan Ustaz Kur selalu bersemangat untuk itu.
Namun, setelah ketenaran menyerang, setelah dia pintar memasang tarif ceramah,
dia tidak lagi semangat. Ustaz Kur selalu membelokkan pembicaraan keluar dari
topik-topik agama. Ceramah dan ayat-ayat kini sudah eksklusif. Praktis warga
kampung hanya mendengar ceramah dan ayat-ayat di jadwal pengajian rutin: malam
Jumat bada Isa untuk bapak-bapak dan pemuda, dan Jumat sore bada Asar untuk
ibu-ibu dan pemudi.
Kelakuan Ustaz Kur yang
demikian berubah sudah menjadi omongan warga kampung. Beberapa warga
mengungkit-ungkit bagaimana dulu warga urunan untuk membangun rumah yang kini
ditempati oleh Ustaz Kur. Salah seorang warga kampung bahkan rela mewakafkan
tanahnya untuk didirikan rumah itu di atasnya. Tapi kini Ustaz Kur seolah lupa
dengan jasa yang telah diberikan warga kepadanya.
Malam itu juga Jelun dan
Wawi mendatangi rumah Ustaz Kur. Mereka membawa sejumlah hasil tani yang mereka
panen sendiri sehari sebelum kematian Uwo. Mereka memberikan semua itu kepada
Ustaz Kur. "Sebagai yang mewakili keluarga Uwo yang miskin itu, kami hanya
bisa memberi hasil tani yang tak seberapa ini untuk membayar jasamu," kata
Jelun lugas. []
Serang, 8 April
2026