Karangantu
Karangantu
oleh Sulaiman Djaya
Di kanal ini sejumlah arkeolog menemukan sosok Nandi
dengan sepasang mata penuh lumpur merindu permaisuri.
Raja-raja Sunda dan para sultan menyebutmu Surosowan,
negeri muasal para empu, ksatria, punggawa
dan para pangeran. Para pedagang dari Malaka
berdagang kapur. Para Khan sibuk di timbangan
dan lalulalang bandar, seakan tak hirau
sengatan panas zuhur. Beberapa meter dari arah mesjid
dan puri, para panday mengukir golok, pedang,
klewang, busur, dan keris, yang ternyata tak sepadan
dengan meriam dan senapan di medan perang.
Kini, hanya kucium aroma menyengat
tubuh dan keringat para nelayan selepas hujan.
Tak ada lagi armada Tiongkok atau Persia
yang datang kepadamu dengan sumringah dan bangga
selain sampah dan warna kumuh kali dan comberan.
(2013)
________
Penulis
Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, liputan9, simalaba, Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, Yang Tampil Beda Setelah Chairil Anwar - Antologi Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2016, dan lain-lain. Kerapkali menjadi pemateri dan narasumber di forum-forum dan acara-acara kebudayaan, kesusastraan dan keagamaan di Banten dan luar Banten.