GUNTING RUMPUT
GUNTING RUMPUT
Oleh Rakhanur
Siang hari ketika matahari begitu terik
Dani menggendong ibunya menuju rumah Pak RT. Dia berjalan sekitar dua ratus
meter dan berselisih jalan dengan beberapa orang tetangganya. Setiap orang yang
berselisih jalan dengannya tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.
Bagaikan petir menyambar di siang bolong, mereka melihat Dani menggendong
ibunya yang tanpa kepala. Darah segar masih menyucur dari pangkal leher.
Melukis jejak perjalanan Dani.
Sesampainya
Dani di rumah Pak RT dia meletakkan tubuh ibunya di teras. Dia mengetuk-ketuk
pintu. Pak RT yang menerima kedatangan Dani sama kagetnya dengan warga yang
berpapasan dengan Dani di jalan. Pak RT coba mencerna apa yang terjadi di
hadapannya. Walaupun sempat membeku, tetapi akhirnya dia sanggup untuk bertanya
kepada Dani. Proses interogasi berjalan mudah. Dengan dingin Dani mangaku,
"aku telah menggunting kepala ibu."
***
Rumah tidak bisa dikatakan tempat yang nyaman
bagi Dani. Rumah adalah sarang durjana. Berbagai pertikaian anatara Sadeli dan
Sulastri sudah menjadi makanan sehari-hari. Sedari kecil Dani tidak pernah
mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mereka sibuk saling
menghardik. Mereka selalu merasa paling benar sendiri. Sulastri tidak pernah
menghargai tanggung jawab Sadeli walaupun dirinya telah mendapatkan hak-haknya
dari Sadeli.
Malam hari selalu menjadi
waktu-waktu yang menjengkelkan bagi Dani. Sadeli yang lelah setelah seharian
berkeliling dagang kopi disambut oleh Sulastri. Bukan dengan segelas kopi atau
kata-kata yang membuat Sadeli sedikit tersenyum, tetapi oleh wajah Sulastri
yang sekusut seragam putih Dani di jam-jam menjelang pulang sekolah. Setelahnya
Sulastri akan mengeluh tentang apa yang dia rasakan seharian tadi. Kalau
Sulastri sudah mengeluh, rasa-rasanya dia adalah wanita paling miskin di bumi
ini.
Sulastri selalu hidup
dalam angan-angannya. Dia tidak pernah menapakkan kakinya ke bumi. Sulastri
memiliki standar kehidupan yang tinggi tanpa sadar keadaan dia sebenarnya
seperti apa. Suaminya hanya pedagang kopi keliling. Dirinya tidak pernah mau
membantu mencari penghasilan tambahan. Namun, dia menginginkan gaya hidup glamour
ala-ala selebritis yang selalu dia tonton di acara Singlet.
Ironinya Dani yang justru
membantu Sadeli memenuhi kebutuhan keluarganya. Setidaknya dia terpaksa untuk
mencari uang saku sekolah sendiri. Empat kali dalam sepekan Dani merawat taman
yang ada di komplek dekat kampung tempat tinggal dia. Jika hari itu adalah hari
sekolah, maka Dani akan pergi ke taman selepas sekolah. Tak jarang dia membawa
baju ganti untuk bekerja ke sekolah. Pulang sekolah langsung pergi ke taman dan
mengganti seragam putih abu-abunya di sana.
Merawat taman yang cukup
luas tentulah Dani tidak bekerja sendirian. Dia berbagi tugas dengan
rekan-rekan kerjanya. Merawat rumput yang ada di taman adalah salah satu tugas
yang sering ia kerjakan. Dia terampil sekali menggunakan gunting rumput.
Memangkas rumput-rumput agar tetap terlihat cantik. Memotong setiap rumput liar
yang tak diinginkan keberadaannya. Jika ada rumput taman yang mati, Dani juga
yang mencabutnya untuk ditanami kembali dengan rumput yang segar. Namun, dari
sekian perawatan rumput yang dilakukan dia secara terampil, Dani paling suka
satu hal: menyiram. Dia sangat menikmati saat bau tanah menyeruak ke udara. Itu
seperti obat penenang Dani di kala dia gusar karena keadaan rumah yang tak
harmonis dan pikirannya yang terbebani pekerjaan rumah dari gurunya.
Hari ini adalah akhir
pekan. Hari libur sekolah. Dani merawat taman pagi hari. Sejak pukul setengah
tujuh Dani sudah bergaul dengan gunting rumputnya. Pekerjaannya sedikit
tersaingi oleh aktivitas warga komplek yang hanya memiliki waktu untuk berolahraga
dua hari dalam sepekan. Selain itu, di momen-momen demikian kadang timbul rasa
iri ketika melihat remaja nanggung seusianya yang bisa dengan asyik berolahraga
dengan teman-temannya. Rasa irinya semakin memuncak kalau dia melihat sebuah
keluarga harmonis yang jalan-jalan santai di taman sambil membawa anjing
peliharannya.
Pekerjaan Dani sedikit
bertambah di momen akhir pekan seperti ini. Semakin banyak pengunjung yang
datang ke taman, maka semakin banyak sampah yang dihasilkan. Pasalnya tidak
semua orang yang datang ke taman itu untuk berolahraga, tetapi banyak juga yang
sekadar jajan-jajan atau menikmati sarapan yang mereka beli dari pedagang di
sekitar taman. Meskipun taman ini berada di komplek perumahan, tidak menjamin
pengunjungnya betul-betul sadar akan kebersihan.
Setelah Dani selesai
dengan pekerjaannya pagi itu, dia lantas pulang ke rumah. Sebelum sempat ia
masuk ke dalam rumah dia tertegun di pekarangan rumah. Dari dalam rumah
terdengar maki-makian yang keluar dari mulut Sulastri. Tidak seperti biasanya,
Sadeli saat itu membalas makian-makian Sulastri sama kerasnya. Nampaknya
akumulasi kekesalan Sadeli kepada istrinya pecah hari ini. Kesabarannya sudah
tidak terbendung.
Kemarin sepeda yang
Sadeli andalkan untuk mencari nafkah disita Satpol PP. Sadeli terjaring razia
di tempat yang tidak semestinya ada pedagang seperti dia. Sulastri meradang
mengetahui suaminya kahilangan satu-satunya mata pencaharian. Dia tidak memberi
solusi sedikitpun. Sulastri malah semakin merasa kalau dirinya adalah wanita
paling miskin di dunia. Kondisi inilah yang diyakini menjadi pemantik sehingga
amarah Sadeli pecah meledak-ledak.
Kondisi rumah sudah tidak
karuan. Ketika Dani masuk ke dalam rumah, ternyata seisi rumah sudah
berantakan. Satu-satunya foto keluarga yang dimiliki keluarga itu sudah lepas
dari figuranya. Bingkainya patah dan kacanya sudah pecah berkeping-keping.
Tidak ada lagi perabotan yang berada di tempat yang semestinya. Melihat kondisi
sedemikian rupa, Dani yakin kalau konflik antara kedua orang tuanya sudah
berada di tahap saling serang secara fisik. Tentulah itu membuat Dani semakin frustasi.
Sejurus kemudian Dani
melihat Sadeli menampar Sulastri. Sulastri membalasnya dengan jambakan. Sadeli
tak mau kalah—membalas jambakan Sulastri. Sekilas Dani bisa melihat lebam-lebam
biru di beberapa bagian tubuh Sadeli dan Sulastri. Rambut Sulastri sudah
seperti gembel yang tidak pernah mandi. Sadeli sudah hiang kontrol. Sulastri
histeris menangis.
Sulastri berlari ke
dapur, mengambil pisau, dan kembali menghampiri Sadeli. Tanpa basa-basi dan
belas kasihan, Sulastri menyerang Sadeli tanpa ampun. Dani menyaksikan betapa
ganasnya Sulastri menghunuskan pisau dapur kepada Sadeli berkali-kali. Dada,
perut, hingga wajah Sadeli habis oleh Sulastri. Sadeli terkapar dengan kondisi
yang mengerikan. Sulastri tertegun duduk di hadapan jasad suaminya. Memandangi
suaminya dengan rasa tidak percaya denga napa yang telah ia lakukan. Teriakan
histerisnya menghilang. Sisa air mata yang masih terus mengalir.
Dani mendekati Sulastri.
Berjalan dengan pandangan dingin. Sorot mata Dani bertemu dengan sorot mata
Sulastri. Seketika air muka Sulastri berubah. Setiap jarak antara dirinya
dengan Dani terpangkas, wajahnya semakin memancarkan wajah ketakutannya. Adegan
ini seperti adegan seekor singa yang siap memangsa rusa yang sudah tidak
berdaya.
Dani mengeluarkan gunting
rumput yang biasa dia pakai untuk bekerja dari tasnya. Sama seperti Sulastri
yang tak segan menghabisi nyawa Sadeli, Dani langsung menusukkan ujung gunting
rumputnya ke leher Sulastri. Tak puas denga napa yang telah dilakukannya, Dani
kemudian menggunting leher kepala ibunya dengan dingin. Lapisan kulit terbuka.
Darah segar semakin deras mengalir. Daging, tulang, dan segala yang berada di
dalam lapisan kulit leher dilumat oleh gunting rumput perlahan-lahan. Kepala
Sulastri terputus. Kemudian Jasad tanpa kepala itu digendong oleh Dani ke rumah
Pak RT. []