XN0MXo6FztPvgPHwqRh1aqX6QVjY7mI3LZnn6QSB
Bookmark

Filsafat

Filsafat

oleh Sulaiman Djaya


Kita seperti mainan kanak-kanak

di papan catur. Tapi kita sepenuhnya bebas

dan tak ada yang mengendalikan.

 

Kita merasa berada di dunia dan berkuasa

ketika bermimpi. Berharap

dan sesekali tertawa

 

karena suatu kebahagiaan dan kegembiraan

tanpa sebab. Kita menangis

ketika orang yang kita cintai

 

tak lagi punya alasan

untuk menyayangi kita yang kesepian.

Kadang-kadang kita jatuh dan bahkan terpuruk

 

meski bukan karena serangan sepasukan musuh.

Tapi seringkali kita juga menyukai lupa

bahwa anugerah hidup tak hadir begitu saja.

 

Kadang kita juga seringkali membenci

sesuatu yang tak kita miliki

dan terus berusaha meyakinkan diri

 

ketika diterjang bosan dan putus-asa.

Kadang kita menimbang-nimbang

dunia seperti apa gerangan

 

yang ingin kita miliki dan kita kuasai

dan kalau bisa, kadang harus,

tanpa kekurangan sama-sekali.

 

Namun di atas segalanya, sekali lagi,

seperti apa pun kita adanya

kita masih bisa memulai lagi permainan kita.

 

(2015) 

 

 

________

Penulis

 

Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, liputan9, simalaba, Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, Yang Tampil Beda Setelah Chairil Anwar - Antologi Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2016, dan lain-lain. Kerapkali menjadi pemateri dan narasumber di forum-forum dan acara-acara kebudayaan, kesusastraan dan keagamaan di Banten dan luar Banten.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar