XN0MXo6FztPvgPHwqRh1aqX6QVjY7mI3LZnn6QSB
Bookmark

Diari

Diari

oleh Sulaiman Djaya


Januari digambar oleh senja berwarna ungu

dan di gugusan awan kuletakkan pikiranku.

Kegembiraanku seperti susunan pematang

tempat kanak-kanak menerbangkan layang-layang.

 

Orang-orang bicara tentang resolusi ekonomi

yang lain menjadi para pecandu televisi.

Tetapi semalam, kuistirahatkan kata-kataku

persis ketika kau sedang nyenyak tertidur.

 

Bagaimana aku bisa menulis puisi

bila aku tak mencintai hidup ini?

Kertas-kertasku kuumpamakan tanjung dan hutan

dan bahasa adalah gelegar ombak dan riuh hujan.

 

Traktat-traktat politik acapkali jadi letih

tentang bagaimana kebahagiaan bisa diraih.

Setiap hari kita kehilangan akal karena berita

yang telah membunuh anak-anak bahasa.

 

Kita ditipu oleh para analis dan para selebriti

yang menyamar sebagai para da’i.

Di kanal-kanal yang lain, para agen finansial

seenaknya saja merekayasa usia kita.  

 

Hari ini, sayang, dunia ternyata

pentas-pentas sandiwara kaum korporat

dan para pemilik senjata. Dan para politisi

sama lucunya dengan lidah-lidah kaum akademisi.

 

(2015)

 

 

 

________

Penulis

 

Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, liputan9, simalaba, Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, Yang Tampil Beda Setelah Chairil Anwar - Antologi Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2016, dan lain-lain. Kerapkali menjadi pemateri dan narasumber di forum-forum dan acara-acara kebudayaan, kesusastraan dan keagamaan di Banten dan luar Banten.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar