Demi Malam di Liang Tungku
Demi Malam di Liang Tungku
oleh Sulaiman Djaya
Demi malam yang selembut dua matamu,
aku jadikan kata sebagai senjata
untuk menyatakan rasa cinta.
Angin dan musim seperti sepi yang saling
berbisik. Aku hitung subuh
seperti ketika jari-jemari lampu
mencumbui rambutmu.
Demi malam yang selalu membuatku
senantiasa cemburu,
aku hisap rokok kretekku
sementara hatiku menjelma laut
bagi Odisius yang digempur jalan buntu.
Demi malam yang mencuri warna
gugusan rambutmu yang kanak-kanak itu,
di atas meja dan di sudut dapur
maut senantiasa mengendus kau dan aku
selepas mereka puas membaca buku-buku
yang tak pernah menceritakan
nasibku-nasibmu.
Demi malam di mana kau dan aku
bermain usia antara rindu
dan padamnya api di liang tungku
peninggalan ibuku, kita sama-sama berpacu
menabung umur yang uzur sebagai para pecatur.
(2013)
________
Penulis