BUKAN PETASAN KENTUT
BUKAN
PETASAN KENTUT
Oleh Rakhanur
Kehidupanku selama bulan Ramadan berubah drastis, tapi bukan menjadi lebih baik. Bukan itu yang aku maksud berubah. Jam tidurku yang berubah. Melek sepanjang malam dan terlelap sepanjang hari. Libur sekolah semakin mendukung keadaanku itu. Kawan-kawan sepantaranku pun juga begitu. Kami bermain petasan sepanjang malam. Kalau anak kampung sebelah coba mengusik kami, kami ladeni. Perang sarung pecah. Bubar ketika water cannon ala-ala ibu-ibu telah ditembakkan.
Malam ini petasan kami habis. Kami berniat untuk membelinya lagi. Alif memungut sejumlah uang patungan kepadaku dan kawan-kawan. Uang yang terkumpul tidak banyak. Hanya cukup membeli satu pak petasan kentut dan satu ikat petasan korek. Maklum kami tak punya uang banyak sebab uang jatah jajan dari orang tua dipangkas tujuh puluh persen selama libur sekolah. “Tenang aku punya ide agar kita tetap mendapatkan petasan yang banyak,” kata Alif santai.
Selepas tarawih kami pergi ke kampung sebelah. Buku Laporan ibadah yang oleh guru kami diperintahkan untuk dipenuhi tanda tangan imam salat tarawih, kami titipkan kepada seorang teman yang tertib. Sampai di kampung sebelah kami menghampiri seorang penjual petasan. Enam bocah berpakaian islami mengerumungi lapak petasan yang kecil. Dua orang kawan bertanya-tanya kepada penjual selayaknya pembeli normal pada umumnya. Aku, Alif, dan dua kawan yang lain menggasak beberapa petasan secara diam-diam. Setelah dua kawanku yang sebelumnya bertanya-tanya kepada penjual telah bertransaksi, kami balik kanan. Sampai di kampung, kami kumpulkan barang hasil curian kami. Jumlahnya banyak sekali. “Rezeki anak soleh,” ujar Alif spontan. Ketawa pecah.
Pukul
dua dini hari. Kami berkumpul di surau setelah dipukul mundur oleh bocah
kampung sebelah. Kami kalah perang sarung malam ini. Pak Ustaz dengan merdu
melantunkan ayat-ayat melalui pelantang. Beberapa sesepuh kampung pun masih
terjaga demi bercengkrama dengan Tuhan di malam penuh berkah. Demi
menghilangkan kebosanan, kami membakar beberapa petasan kentut. Asap
warna-warni menyeruak ke udara. Kami kegirangan demi melihat asap-asap itu.
"Itu bukan petasan
kentut, Lif!"
DAR! Petasan bom yang memiliki bentuk mirip dengan petasan kentut meledak tepat saat Alif melemparnya ke tanah dengan panik. Suara ledakan yang sangat keras itu menjeda lantunan ayat yang dilantunkan Pak Ustaz melalui pelantang. Pagar surau yang terbuat dari besi holo bergetar. Pemilik rumah sekitar surau keluar dengan mata masih setengah tertutup. Malam pertengahan Ramadan yang begitu tenang buyar seketika. Aku, Alif, dan beberapa kawan lari kocar-kacir. Kami menghindari amukan Pak Ustaz juga warga sekitar. Wajah Alif pucat. Bulir-bulir keringat menyucur dari dahinya walaupun badannya terasa dingin.
Pak Ustaz mengumumkan waktu
sahur melalui pelantang surau. Itu pertanda untuk kami memulai aksi: keliling gerebek
sahur. Kami pun keluar dari persembunyian menuju surau untuk mengambil
kentungan dari bambu.
"Tak ada gerebek
sahur keliling malam ini," ujar Pak Ustaz dingin.
Pak Ustaz meminta kami
untuk berbaris di halaman surau layaknya hendak salat. Pak Ustaz berdiri
dihadapan kami, tetapi bukan untuk menjadi imam. Dari mulutnya keluar kata-kata
yang kami rasakan sebagai amarah. Setelah dirasa lelah mengoceh, Pak Ustaz
menyuruh kami masuk ke dalam surau. Di dalam kami duduk melingkar. Pak Ustaz
membacakan sebuah ayat. Kami diperintahnya untuk menyambung ayat bergiliran.
Setiap dari kami yang tidak bisa melanjutkan ayatnya kena pukul rotan Pak
Ustaz. Plak! Tangan Alif memang selamat dari ledakan petasan, tapi tidak dari
rotan kesayangan Pak Ustaz.
Jam di surau menunjukan
bahwa waktu imsak semakin dekat. Aku dan Alif diminta untuk membeli nasi
bungkus di warung Mak Uum. Sepanjang perjalanan aku menertawakan Alif yang kena
sabet Pak Ustaz. Alif menyeringai walaupun sebetulnya dia sebal. Setelah
membeli nasi bungkus, aku dan Alif kembali ke surau untuk santap sahur bersama
Pak Ustaz dan kawan-kawan yang lain.Uang sisa membeli nasi bungkus yang diberi
oleh Pak Ustaz kami tilap. Lumayan untuk membeli petasan. Rangkaian perisiwa
tadi ditutup dengan salat subuh berjamaah.
Aku masih bisa mengingat
dengan jelas masa-masa itu. Bahkan aku masih bisa mengingat semua
kenangan-kenangan masa kecilku di kampung ini. Bagaimana aku setiap sore
bermain sepak bola bersama kawan-kawanku. Bagaimana aku menjadi bocah pertama
yang memiliki sebuah sepeda. Bagaimana aku dan Alif sering kena sabet rotan Pak
Ustaz ketika mengaji. Aku masih ingat.
Ketika masa-masa itu,
kampung ini sangat nyaman untuk ditinggali. Masyarakat hidup bersahaja. Jauh
dari hiruk-pikuk perkotaan. Alam yang asri menjadi temanku setiap hari. Suasana
yang tenang dan damai selalu menyertai kehidupan warga kampung ini. Sayangnya
kampung ini berubah ketika sekelompok orang dari kota datang. Mereka mengaku
sebagai utusan dari sebuah perusahaan perkebunan yang berbasis di ibu kota.
Awalnya mereka datang
baik-baik. Bertemu Pak Kades. Menjelaskan maksud kedatangannya dengan tutur
bahasa yang penuh hormat. Semakin sering mereka bulak-balik ke kampung ini,
semakin arogan tutur katanya. Aku yakin mereka semakin tertekan karena sudah
kena tegur atasannya di ibu kota. Lahan perkebunan sawit yang diimpikan tak
kunjung terealisasikan. Warga kampung ini masih ogah menyerahkan tanah milik
mereka.
Orang-orang dari ibu kota
itu semakin bengis. Dengan berbekal dokumen-dokumen hasil mengakali hukum,
perusahan perkebunan itu dengan percaya dirinya menurunkan alat berat untuk
menggusur warga secara pakasa. Ketika warga Bersatu melawan, mereka mengerahkan
aparat. Keributan pecah. Mulanya aparat yang ditugaskan tidak terlalu
menyerang. Namun, setelah berhari-hari warga coba mempertahankan apa yang
menjadi haknya, aparat makin beringas. Jumlah personel yang ditugaskan semakin
banyak. Aku akhirnya ditugaskan pada hari kedua puluh lima konflik. Aku bertugas
dengan peralatan lengkap khas pasukan elit anti huru-hara.
Situasi saat itu sangat
mencekam. Warga tidak kalah beringasnya menyerang Aparat. Mereka melempari kami
dengan batu, aparat bersembunyi di balik tameng. Mereka merangsek maju dengan mengacungkan
kayu balok, aparat menembakkan gas air mata. Mereka menyerang aparat dengan
apapun yang mereka punya.
Hari itu adalah puncak
dari konflik ini. Aku dan pasukanku diperintahkan untuk mengamankan beberapa
warga yang masih coba melawan. Di antara beberapa warga yang diamankan adalah
kawan-kawan sepermainanku. Aku melihat mereka dipukuli, ditendang, diseret oleh
rekan kerjaku. Saat itu batinku terusik. Sejujurnya aku tak tega melihat banyak
orang yang kukenal sedari kecil harus menghadapi situasi sulit ini. Bahkan
orang tua dan saudara-saudaraku pun memiliki nasib yang sama. Kemampuan taktis
yang bertahun-tahun telah dilatih seolah hilang begitu saja.
Melihat beberapa teman-temannya
telah diamankan, tidak menciutkan nyali warga. Perlawanan mereka justru semakin
kencang. Sekarang mereka menyerang aparat dengan senjata-senjata yang lebih
berbahaya. Bom molotov berkali-kali mereka lemparkan ke arah kami. Kembang api
ditembakkan ke arah kami. Bahkan mereka menyerang aparat dengan petasan yang
memiliki daya ledak cukup tinggi. Di momen itu aku melihat Alif melemparkan
petasan berukuran sangat besar ke arahku sambil berteriak, “HEY, BAJINGAN, ITU
BUKAN PETASAN KENTUT!”