XN0MXo6FztPvgPHwqRh1aqX6QVjY7mI3LZnn6QSB
Bookmark

BERLAPIS DUKA

 BERLAPIS DUKA

Siti Fatmala


Sudah sekitar tiga bulan Mas Bimo terbaring di atas kasur berlapis sutra. Wajahnya pias, tulang-tulangnya menonjol, dan matanya cekung. Kami sudah mendatangkan dokter-dokter terbaik dari luar kota, tetapi suamiku tak kunjung sembuh. Siang malam aku menangis tanpa henti, membayangkan bagaimana dulu Mas Bimo bekerja keras untuk keluarga kami, diludahi, dicaci maki, dan dipandang rendah. Sekarang, ketika ia sudah punya segalanya, justru sakit datang menimpanya.


Pagi itu, suara dari musala membuat jantungku berdesir tidak enak.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah berpulang ke rahmatullah Pak RT Dadang pada pukul 07.00…

Aku tertegun. Baru kemarin aku melihat Pak Dadang dalam keadaan sehat. Meski dulu ia sempat mengejek saat kami susah, tetap saja kabar itu membuat dadaku sesak. Aku izin hendak melayat ke rumah duka. Namun saat membuka pintu kamar, langkahku terhenti melihat Mas Bimo berdiri di depan cermin.

Aku mematung. Sakit yang selama tiga bulan menggerogoti tubuhnya lenyap begitu saja. Ia tampak sehat bahkan terlalu sehat. Aku mengernyit, mencoba memahami apa yang kulihat.

“Kamu harusnya bersyukur suamimu sembuh, bukan bingung begitu,” ucapnya seolah tahu isi pikiranku.

Sejak Mas Bimo sembuh, ia mulai sering pergi pada malam hari. Ia bilang itu pekerjaan. Aku mencoba percaya, tetapi ada hal-hal kecil yang membuatku tidak bisa benar-benar tenang. Bau dupa dan kembang tujuh rupa sering memenuhi kamar kami. Terutama saat malam Jumat, bau itu berubah menjadi lebih pekat seperti sesuatu yang membusuk. Bahkan lantai marmer di rumah kami terasa  dingin mencekam. 

Aku sesekali meminta Mas Bimo untuk memindahkan jadwal kerjanya di malam ke siang hari. Setahuku, ia pemilik perusahaan, seharusnya tidak sulit baginya untuk mengatur waktu.

“Muti sayang, pekerjaanku memang harus malam. Ada proyek yang harus aku selesaikan di Gunung Kowi.”

Aku mulai memperhatikan sekitar. Entah kebetulan atau tidak, semakin sering Mas Bimo pergi, semakin sering pula kabar kematian datang dari tetangga. Satu per satu. Dari rumah paling ujung kanan, lalu bergeser ke kiri. Tidak pernah melompat. Selalu berurutan.

Rasa takut itu tumbuh. Aku meminta Mas Bimo pindah rumah. Kampung ini sudah terasa terlalu angker bagiku. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang berhubungan dengan tumbal. Namun Mas Bimo selalu menenangkanku lewat kata-katanya. 


Suatu malam, aku mendengar percakapan dari balik pintu kamarku. Suara Mas Bimo dan suara seseorang yang tidak kukenal. Aku tidak bisa menangkap semuapercakapan, hanya potongan-potongan kalimat yang membuat napasku tertahan.

”…orang terdekat…”

Dari balik pintu itu, aku memahami awalnya Mas Bimo menolak, lalu hening dan kemudian Mas Bimo menyetujuinya. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku berpura-pura tidak tahu dan berikap seperti biasanya. 

Beberapa hari kemudian, kabar duka kembali terdengar. Pak H. Selamet, sesepuh kampung, meninggal dunia. Aku terpaku mendengar kabar itu dan melihat suamiku justru tersenyum lebar. Tidak ada duka di wajahnya.

“Waktu kita susah, dia pernah meludahiku,” kata Mas Bimo.

Polanya semakin jelas. Rumah Pak H. Selamet sebelah kiri dari rumahku. Ketakutanku semakin memuncak. Aku yakin setelah ini giliranku tiba. 


***

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah meninggal dunia Bimo bin Tian…

Aku tersenyum penuh kemenangan. 

Kamis malam, Mas Bimo berpamitan seperti biasa. Aku mengikutinya diam-diam, jalan menuju Gunung Kowi. Aku membuntutinya dari jauh, memastikan ia tidak menyadari kehadiranku. Aku melihatnya berhenti di suatu tempat, lalu menghilang begitu saja.

Aku tidak lagi mendekat ke arahnya, yang kulakukan mencari orang sakti yang lebih kuat. Aku tahu kau akan melakukannya, Mas. Sejak Pak Haji meninggal, aku tahu giliranku akan tiba. Maka, aku pergi ke tempat yang sama denganmu. Aku memberikan kontrak yang lebih baik.

Aku bilang pada orang saktu Gunung kowi ”Kenapa kau harus repot-repot memakan tetangga satu per satu kalau kau bisa memakan sumbernya langsung?”

Aku tidak siap menjadi tumbalmu. Maka, aku menumbalkanmu, Mas. Aku menumbalkan orang yang paling kucintai di dunia ini. 

Aku keluar dari rumah dengan perasaan ringan tanpa beban. Namun langkahku terhenti ketika kulihat warga kampung sudah berkumpul di depan rumah. Mereka bergerombol, membawa batu, kayu dan obor. Dari wajah mereka terlihat api kemarahan, tidak lagi seperti orang-orang yang kukenal.

”Bapak, Ibu, ini ada apa, ya?” tanyaku mencoba tenang. 

Mereka tiba-tiba saja memberi dua pilihan. Pergi dari kampung itu atau aku akan dibakar hidup-hidup. Aku mencoba mencerna semuanya. Lalu, salah satu dari mereka mengatakan mereka menaruh curiga kepada keluarga kami, karena dalam waktu enam bulan sejak kami pindah ke kampung ini, tiba-tiba saja kami kaya mendadak.

 “Itu karena proyek suamiku berhasil, bukan karena apa-apa,” jawabku cepat.

Seseorang melangkah maju, “Tapi aku melihatmu ke Gunung Kowi.”

Darahku seakan berhenti mengalir. Belum sempat aku mengelak, sebuah obor melayang ke arahku dan menghantam wajahku. Api itu tepat mengenai pipiku, panasnya menjalar cepat hingga membuat aku ambruk tak sadarkan diri. 

Selesai

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar